Penyebab Ibu Menyusui Menjadi Gemuk

Penyebab Ibu Menyusui Menjadi Gemuk

Penyebab Ibu Menyusui Menjadi Gemuk, Apa Saja?

Penyebab Ibu Menyusui Menjadi Gemuk Banyak orang percaya bahwa memberikan ASI secara eksklusif dapat secara otomatis menurunkan berat badan setelah melahirkan. Meskipun tubuh membakar banyak energi selama proses laktasi, kenyataannya tidak sedikit ibu yang justru mengalami kenaikan berat badan. Fenomena ini sering kali menimbulkan kekhawatiran dan rasa kurang percaya diri. Namun, apa sebenarnya yang memicu kondisi ini?

Secara ilmiah, tubuh memang membakar sekitar 500 hingga 700 kalori setiap harinya untuk memproduksi ASI. Akan tetapi, manfaat pembakaran kalori ini sering kali tertutup oleh beberapa faktor gaya hidup dan perubahan hormon. Berikut adalah beberapa pemicu utama mengapa berat badan ibu menyusui justru melonjak.

1. Porsi Makan yang Berlebihan

Salah satu mitos yang paling sering terdengar adalah ibu menyusui harus makan dua kali lipat lebih banyak demi bayi. Padahal, kebutuhan nutrisi tambahan tidak berarti porsi makan harus menjadi dua porsi penuh orang dewasa.

Baca juga : Bahaya Melakukan Self Diagnosis

Berdasarkan pedoman gizi, ibu menyusui hanya memerlukan tambahan energi sekitar 330 kalori pada enam bulan pertama. Selanjutnya, kebutuhan meningkat menjadi 400 kalori pada enam bulan kedua. Jika konsumsi makanan jauh melampaui batas ini, maka kelebihan kalori tersebut tidak akan masuk ke dalam ASI. Sebaliknya, kalori tersebut akan tersimpan sebagai tumpukan lemak dalam tubuh yang memicu kegemukan.

2. Efek Kurang Tidur dan Kelelahan

Mengurus bayi baru lahir merupakan tugas yang sangat menguras tenaga dan sering kali merampas waktu istirahat. Kurang tidur ternyata memiliki kaitan erat dengan kenaikan berat badan. Ketika tubuh kelelahan, kadar hormon ghrelin (hormon lapar) akan meningkat, sementara hormon leptin (hormon kenyang) justru menurun.

Kondisi ini membuat ibu cenderung merasa lapar secara terus-menerus dan ingin mengonsumsi makanan berkalori tinggi. Selain itu, rasa kantuk yang ekstrem sering kali memicu keinginan untuk mencari asupan instan yang tinggi gula agar tubuh kembali berenergi secara cepat.

3. Tekanan Stres dan Hormon Kortisol

Transisi menjadi seorang ibu bukanlah perjalanan yang mudah bagi setiap wanita. Tangisan bayi yang tanpa henti atau masalah pada proses menyusui bisa memicu stres yang cukup tinggi. Saat stres melanda, tubuh melepaskan hormon kortisol dalam jumlah besar.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kortisol berkaitan erat dengan akumulasi lemak, terutama di area perut. Oleh karena itu, dukungan dari pasangan dan keluarga sangat penting agar ibu tetap merasa tenang. Jika stres tidak segera diatasi, hal ini dapat berujung pada depresi pascapersalinan yang memperburuk pola makan.

Tips Mengatur Pola Makan saat Menyusui

Jika berat badan terasa mulai tidak terkendali, Anda disarankan untuk mulai beralih ke pola makan yang lebih sehat tanpa mengurangi nutrisi bayi. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah mengganti camilan tinggi gula dengan buah-buahan segar atau kacang-kacangan.

Selain itu, Anda harus mulai membatasi konsumsi karbohidrat olahan seperti roti putih, gorengan, dan makanan cepat saji. Fokuslah pada asupan protein berkualitas dan sayuran hijau. Namun, pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi sebelum melakukan diet ketat. Hal ini bertujuan agar perubahan pola makan tidak mengganggu produksi dan kualitas ASI yang sangat dibutuhkan oleh si Kecil.