Penyakit Parkinson Bukan Hanya Gangguan Gerak

Penyakit Parkinson Bukan Hanya Gangguan Gerak

Penyakit Parkinson Bukan Hanya Gangguan Gerak

Banyak orang mengira bahwa Parkinson hanyalah masalah tremor atau gemetar pada tangan. Namun, fakta medis menunjukkan bahwa kondisi ini jauh lebih kompleks. Penyakit Parkinson menempati posisi kedua sebagai gangguan neurodegeneratif yang paling sering terjadi secara global setelah Alzheimer. Secara statistik, sekitar 2 hingga 3 persen penduduk berusia di atas 65 tahun mengidap kondisi ini. Menariknya, data menunjukkan bahwa wanita memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan pria dalam menghadapi penyakit ini.

Memahami Penyebab dan Risiko

Munculnya Parkinson dipicu oleh interaksi antara faktor keturunan, pengaruh lingkungan, dan pola hidup sehari-hari. Beberapa mutasi genetik spesifik seperti LRRK2 dan SNCA sering menjadi penyebab pada kasus yang bersifat keluarga. Selain genetik, paparan polusi udara, penggunaan pestisida, serta riwayat cedera kepala juga berkontribusi besar. Kerusakan ini terjadi akibat kematian sel saraf dopaminergik di area otak tertentu. Akibatnya, terjadi penumpukan protein berlebih yang mengganggu fungsi komunikasi antar sel saraf secara progresif.

Baca juga : Waspada Makan Berlebihan saat Liburan

Gejala yang Sering Terabaikan

Meskipun identik dengan masalah gerak, gejala awal sebenarnya sering muncul dalam bentuk non-motorik. Tahapan perkembangan penyakit ini terbagi menjadi empat fase utama yang perlu diwaspadai sejak dini:

  • Fase Prodromal Fase ini bisa berlangsung hingga dua dekade sebelum adanya keluhan fisik. Gejalanya cenderung tidak spesifik sehingga pasien sering mengabaikannya. Contoh keluhannya meliputi konstipasi kronis, penurunan indra penciuman, kecemasan, hingga gangguan tidur yang ekstrem.

  • Fase Awal (Early-Stage) Pada titik ini, tanda-tanda motorik mulai terlihat jelas. Istilah “Brad-Pit” sering digunakan untuk merujuk pada gejala utama: Bradikinesia (gerakan lambat), Rigiditas (kaku otot), Postural Instability (gangguan keseimbangan), dan Tremor. Pasien biasanya baru mencari bantuan medis saat merasa langkah kaki mengecil dan ekspresi wajah mulai berkurang.

  • Fase Menengah (Mild-Stage) Sepuluh tahun setelah diagnosis, kondisi biasanya berkembang ke tahap menengah. Pasien mungkin mulai merasakan efek samping pengobatan jangka panjang. Gejala seperti gangguan berkemih, penurunan tekanan darah mendadak, hingga halusinasi visual sering muncul pada periode ini.

  • Fase Lanjut (Late-Stage) Ini adalah tahap di mana kemandirian pasien mulai menurun drastis. Gangguan keseimbangan yang parah meningkatkan risiko jatuh dan cedera fisik. Selain itu, kesulitan menelan sering memicu masalah malnutrisi, sementara gangguan kognitif dapat berkembang menjadi demensia yang membutuhkan perawatan intensif.

Pentingnya Deteksi Dini

Oleh karena itu, sangat penting bagi keluarga untuk mengenali gejala sejak tahap awal. Penanganan yang tepat tidak hanya fokus pada perbaikan gerak, tetapi juga menjaga kualitas hidup pasien secara menyeluruh. Meskipun Parkinson adalah kondisi yang progresif, terapi medis yang konsisten dapat membantu mengontrol gejala dengan sangat efektif. Dengan dukungan lingkungan yang positif, pasien tetap bisa menjalani aktivitas harian dengan lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *